Wanita ini kongsi kisah disebalik kehidupannya,bukan sahaja roti john malah nak beli martabak pun mereka tidak mampu.

Kehidupan Keluarga Kisah Rumah Tangga Pekerjaan Pelik Tapi Benar Sedih

KUANTAN -“Tiap-tiap hari anak minta saya belikan martabak sebagai juadah berbuka, tapi saya tak mampu,” demikian kata Nor Azuha Wan Muda, 35.Ibu kepada empat anak ini mengakui tersentuh hati setiap kali berbuka kerana gagal memenuhi permintaan anak sulungnya, Mohd Shukri Abdullah,10.

Menurutnya, setiap hari, mereka sekeluarga berbuka dengan nasi putih dan ikan masin begitu juga pada waktu bersahur.“Nak makan hari-hari pun ala kadar, apatah lagi nak penuhi permintaannya. Kalau dapat duit lebih baru suami mampu beli ikan dan telur. Kalau tak anak-anak makan ikan masin,

nasi dengan air garam atau nasi dengan minyak ikan goreng,” katanya ketika ditemui di rumahnya di Permatang Badak, hari ini.Nor Azuha bersama keluarganya menetap di bangsal itu sejak 11 tahun lalu.Nor Azuha berkata, perbelanjaan harian sekeluarga ditanggung oleh suaminya, Mohd Hussien Abdul Shukor, 35, yang bekerja sebagai penjual barangan terpakai.

Katanya, pendapatan harian suaminya tidak mampu untuk menunaikan keinginan anak-anak meskipun untuk membeli sekeping murtabak yang berharga RM5 di bazar Ramadan.“Suami dapat gaji hari, kalau ada barang dia (suami) jual dapatlah RM40 hingga RM50 sehari, itu kalau ada barang yang hendak dijual.

“Kalau dia balik tangan kosong terpaksa saya masak nasi sahaja untuk anak,” katanya.Sungguhpun berdepan dengan kesukaran hidup, Nor Azuha berkata, anaknya-anaknya tidak pernah merungut, sebaliknya menerima apa sahaja yang mampu disediakan oleh ibu dan bapanya.

Jelasnya, persiapan raya anak-anak juga masih belum difikirkan buat masa ini.Inilah tempat Nor Azuha memasak dan membasuh.Bagaimanapun, dia berharap agar ada sumbangan daripada mana-mana pihak untuk menyediakan persiapan raya buat empat anaknya itu.

Nor Azuha berkata, walaupun dia menerima zakat RM400 sebulan, bantuan terbabit hanya cukup untuk membeli keperluan dapur selama sebulan.“Bila dapat bantuan zakat, saya guna duit itu untuk beli barang keperluan dapur. Kalau tak anak-anak tak dapat makan.

“Duit gaji suami pula digunakan untuk beli barangan keperluan harian dan anak sekolah,” katanya.Dalam kesedihan itu, kediaman yang dihuni enam beranak ini cukup daif dan mereka menjadikan bangsal usang sebagai tempat untuk mereka berteduh.Dia sudah menetap di bangsal terbabit sejak 11 tahun lalu, selepas ia dibina oleh pemergian bapanya, Wan Muda Wan Omar.

Nor Azuha berkata, kemiskinan hidup menyebabkan dia tidak mampu membaiki bangsal yang didiaminya itu.“Bangsal ini tak sempurna, atap bocor. Kalau hujan kami semua basah, lantai dah reput sebab dah lama tak berganti.Nor Azuha mengunakan dapur arang bagi memasak.

“Walaupun bangsal ini teruk tapi inilah satu-satunya kediaman yang saya ada dan tak perlu bayar sewa secara bulanan,” katanya.Dalam pada itu, Nor Azuha berkata, dia pernah mendapat tawaran untuk tinggal di Flat Pak Mahat, tetapi terpaksa menolak tawaran itu.Menurutnya, suaminya tidak mampu untuk membayar sewa rumah sekitar RM200 sebulan.

“Daripada berhutang disebabkan tak boleh bayar sewa, lebih baik saya tinggal di bangsal ini walaupun tak sempurna.“Sekurang-kurangnya ada duit RM100 atau RM200 boleh saya membeli barang keperluan anak-anak,” katanya.Dia juga berharap ada pihak yang sudi membantu membina rumah untuknya di atas tanah pusaka arwh bapanya itu.

Sumber: sinarharian via coretan media

Kedermawanan si Fakir, Menyelamatkannya Dari Bilik Besi

Nama yang tersebut dalam kisah ini bukan nama asli, semacam nama untuk memudahkan orang memahami kisah. Kisah ini nyata, keberadaan nama tidak mengubah alur dan inti kisah.Berangkatlah Ahmad bersama keluarga untuk melakukan safar. Beliau mengendarai mobil pribadi di parkiran.

Pada saat melintasi jalur di tengah padang pasir, tiba-tiba keretanya rosak. Tengok kanan-kiri, jauh dari pemukiman penduduk. Beliau berusaha menghidupkan mesin, namun semua gagal tanpa hasil. Ahmad dan keluarga kebingungan, mereka hanya bisa duduk mengharapkan ada yang bisa membantunya.

Pertolongan Allah tak lama dinanti. Tidak berselang lama, tiba-tiba berhenti sebuah mobil. Turun seorang Hasan untuk menawarkan bantuan. “Apa yang terjadi dengan mobil anda?”Merekapun berusaha sekali lagi untuk menghidupkan mesin kereta… Merasa putus asa, Hasan hanya bisa menawarkan.

“Ini kereta saya, silahkan anda lanjutkan perjalanan anda bersama keluarga, biar saya tunggu mobil anda di sini, sampai anda membawa mobil derek dari kota anda untuk membawa mobilmu.”“Ini tak masuk akal, kamu bisa duduk di sini sekitar 10 jam.” Timpal Ahmad.

Namun Hasan tetap berusaha meyakinkan, “Tidak masalah, saya sendirian, sedangkan anda bersama keluarga.”Setelah dirayu, Ahmadpun bersedia membawa mobil Hasan, si pemberani. Setelah mencatat nombor hpnya, Ahmad melaju dengan mobil Hasan bersama keluarganya. Esok harinya, mobil Ahmad masuk bengkel dan beliau mengembalikan mobil Hasan.

Setelah berlalu beberapa hari, Ahmad teringat kenangan bersama Hasan. Spontan beliau telpon Hasan untuk menanyakan kabarnya. Bukan kabar baik yang dia dengar, yang mengangkat telpon istrinya Hasan, “Hasan dipenjara.” Hasan dipenjara karena terjerat utang. Setelah mendapatkan informasi alamat lengkap,

Ahmad menuju bilik besi dengan membawa 100 ribu real (sekitar 270 juta). Tanpa pikir panjang, uang itu langsung diserahkan ke penanggung jawab bilik besi. “Ini untuk melunasi utang Hasan, segera lepaskan dia.” Pinta Ahmad.“Siapa Anda?” tanya pak pengawal.“Tidak perlu anda tahu namaku.” Ahmad pun pergi.

Berselang 20 hari, Ahmad menghubungi nomor Hasan. Ternyata yang mengangkat istrinya: “Dia masih di bilik besi.”Bergegas Ahmad menuju penjara dan menanyakan apa sebab Hasan tidak dilepaskan. “Utang Hasan 3 juta real, bukan seratus ribu.”Sebelum Ahmad sempat komentar, sang sipir menimpali ucapannya,

“Saya bingung dengan keadaan anda dan teman anda. Dua orang yang saya anggap sangat aneh. Anda datang dengan memberikan 100 ribu real tanpa menyebutkan nama anda. Sementara teman anda yang di bilik besi bersikap sangat pelik. Setelah kuserahkan 100 ribu itu, dia bilang:

‘Duit 100 ribu ini tidak bisa membebaskan aku. Tolong berikan kepada teman-temanku lainnya yang di bilik besi karena utang 5 ribu atau 10 ribu real.’ karena kebaikan si Hasan, ada 12 orang yang dibebaskan.”“Tidak masalah, semua baik insyaaAllah.” Tukas Ahmad sebelum pulang.

Setelah menghilang sebulan, Ahmad berhasil mengumpulkan 3 juta real (Sekitar 8,1 M), dari penghasilannya dan sumbangan donatur lainnya. Sampai akhirnya Hasan, sang dermawan bisa dibebaskan.Pernahkah anda membayangkan Allah akan melupakan orang baik seperti Hasan dan Ahmad?

Semangatnya untuk menolong saudaranya merupakan bentuk itsar yang Allah ajarkan dalam Al-Quran. Mendahulukan saudaranya dibandingkan diri sendiri. Dan karena sikap inilah, Allah memuji orang anshar, dan Allah sebut mereka sebagai orang yang muflih.

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa

yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung. (QS. Al-Hasyr: 9)